JAKARTA, Pilarportal.com – Angka resting heart rate (RHR) atau detak jantung saat istirahat belakangan menjadi perhatian. Sebagian orang menganggap semakin rendah angkanya, semakin sehat kondisi jantung.
Padahal, detak jantung istirahat perlu dinilai berdasarkan kondisi tubuh, tingkat kebugaran, usia, serta ada atau tidaknya gejala yang menyertai.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Vito A. Damay, menjelaskan bahwa RHR berkaitan dengan kondisi kesehatan jantung dan metabolisme seseorang.
Dalam keterangannya yang dikutip dari Detik, ia menyebut detak jantung istirahat yang lebih tinggi dapat berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.
Secara umum, detak jantung orang dewasa saat beristirahat berkisar antara 60 hingga 100 kali per menit (beats per minute atau bpm). Namun, angka ini tidak berlaku sama untuk setiap orang dan dapat berubah sesuai kondisi tubuh.
Atlet Bisa Memiliki Detak Jantung Lebih Rendah
Pada orang yang rutin melakukan olahraga aerobik atau latihan daya tahan, detak jantung istirahat dapat berada di bawah 60 bpm.
Menurut Vito, atlet yang terbiasa melakukan latihan intensif, seperti pelari maraton, bisa memiliki detak jantung sekitar 40–50 bpm ketika tidur.
Kondisi tersebut dapat tergolong normal apabila tidak disertai keluhan dan berkaitan dengan adaptasi tubuh terhadap latihan fisik.
Jantung yang terlatih mampu memompa darah secara efisien sehingga tidak selalu perlu berdetak sesering jantung orang yang kurang aktif secara fisik.
Namun, angka RHR yang rendah tidak otomatis menandakan kondisi jantung sehat. Faktor lain, termasuk obat-obatan dan gangguan sistem kelistrikan jantung, juga dapat menyebabkan detak jantung melambat.
Kapan Detak Jantung Rendah Perlu Diwaspadai?
Detak jantung yang lebih lambat dari biasanya dikenal sebagai bradikardia. Kondisi ini perlu dinilai berdasarkan keadaan seseorang, bukan hanya dari angka yang terlihat pada jam tangan pintar atau alat pengukur detak jantung.
Jika detak jantung rendah disertai pusing, kepala terasa ringan, kelelahan tidak biasa, sesak napas, kebingungan, atau nyeri dada, sebaiknya segera mencari pertolongan medis.
Apabila muncul nyeri dada berat, sesak napas berat, pingsan, atau tanda kegawatdaruratan lainnya, segera hubungi layanan darurat atau pergi ke instalasi gawat darurat terdekat.
Sebaliknya, seseorang yang memiliki detak jantung rendah tanpa gejala, terutama atlet atau orang yang rutin berolahraga, belum tentu mengalami masalah kesehatan. Penilaian tetap perlu mempertimbangkan riwayat kesehatan dan kondisi masing-masing.
Jangan Hanya Mengejar Angka Rendah
Detak jantung istirahat dapat menjadi salah satu petunjuk untuk memahami kebugaran dan kesehatan tubuh. Namun, angka tersebut tidak seharusnya dijadikan satu-satunya ukuran kesehatan jantung.
Pengukuran sebaiknya dilakukan ketika tubuh benar-benar beristirahat. Jika hasil pengukuran berulang kali berada di luar kisaran biasanya, atau muncul keluhan, konsultasikan dengan tenaga kesehatan.
Menjaga kesehatan jantung tetap membutuhkan kebiasaan yang menyeluruh, seperti rutin beraktivitas fisik sesuai kemampuan, tidur cukup, mengonsumsi makanan bergizi, tidak merokok, serta memeriksa faktor risiko secara berkala.
Intinya, detak jantung yang rendah tidak selalu berarti lebih sehat. Yang penting adalah memahami kondisi tubuh dan memastikan tidak ada gejala yang mengarah pada masalah kesehatan.
Penulis : Yudi Mintalangi (UKW 24799)
Editor : YUDI HM




























Komentar