Pesan Pangdam Mirza untuk Prajurit Sangihe: Tentang Pengabdian, Disiplin, dan Harga Diri

TAHUNA, Pilarportal.com – 14 April 2026 – Matahari siang menggantung tepat di atas Lapangan Makodim 1301/Sangihe. Terik tak menyurutkan langkah para prajurit yang berdiri tegap, menyimak setiap kata yang disampaikan Pangdam XIII/Merdeka, Mayjen TNI Mirza Agus.

Di tengah barisan itu, ada semangat yang tak terlihat, namun terasa kuat—semangat pengabdian di wilayah perbatasan yang jauh dari hiruk pikuk kota besar, namun tak pernah jauh dari tanggung jawab menjaga negeri.

Kunjungan kerja Pangdam ke Makodim 1301/Sangihe di Jalan Tatehe Woba, Tahuna, bukan sekadar agenda rutin. Ia menjadi ruang pertemuan antara pimpinan dan prajurit—ruang di mana apresiasi, pesan, dan harapan bertemu dalam satu waktu.

Di sisi lapangan, Komandan Kodim 1301/Sangihe, Nazarudin, bersama para perwira dan Danramil turut menyaksikan momen tersebut. Sementara sebagian prajurit lainnya tetap menjalankan tugas di pelosok wilayah binaan—menjadi bukti bahwa pengabdian tak pernah berhenti, bahkan ketika kegiatan berlangsung.

Dalam suaranya yang tegas namun hangat, Pangdam menyampaikan apresiasi atas kerja keras prajurit. Ia menyoroti bagaimana tugas-tugas teritorial yang dijalankan tidak hanya sekadar rutinitas, tetapi telah memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Lebih dari itu, keberhasilan menyelesaikan pembangunan infrastruktur lebih cepat dari target menjadi kebanggaan tersendiri. Di balik capaian tersebut, ada keringat, kerja sama, dan komitmen yang tidak selalu terlihat, namun dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Namun, di balik pujian, terselip pesan yang lebih dalam.

Tentang peran Danramil sebagai ujung tombak—yang bukan hanya memimpin, tetapi juga merangkul. Yang hadir bukan hanya sebagai aparat, tetapi sebagai bagian dari masyarakat. Di wilayah kepulauan seperti Sangihe, komunikasi dan kepercayaan menjadi fondasi yang tak tergantikan.

Menjelang akhir arahannya, suasana menjadi lebih hening. Pesan Pangdam berubah menjadi pengingat yang sederhana, namun berat maknanya: menjaga disiplin, menjauhi pelanggaran, dan mempertahankan nama baik institusi.

Karena bagi seorang prajurit, kehormatan bukan hanya milik pribadi—melainkan cerminan dari satuan, bahkan negara.

Kegiatan kemudian berlanjut dengan pemberian tali asih kepada warakawuri dan para pensiunan. Momen itu menghadirkan suasana berbeda—lebih hangat, lebih manusiawi. Senyum dan haru berpadu, mengingatkan bahwa pengabdian tidak berhenti saat tugas usai, tetapi terus hidup dalam kenangan dan jasa.

Di akhir acara, foto bersama menjadi penutup sederhana, namun bermakna. Sebuah potret kebersamaan antara generasi yang masih mengabdi dan mereka yang telah lebih dulu mengorbankan waktu dan tenaga untuk negeri.

Di bawah langit Tahuna, hari itu bukan hanya tentang pengarahan. Ia adalah tentang mengingat kembali arti menjadi prajurit—tentang loyalitas, pengorbanan, dan tanggung jawab yang tak pernah mengenal batas wilayah.