“Masyarakat moderen adalah masyarakat yang bertumbuh, berubah ke arah yang lebih baik dan berpikir rasional. Mahasiswa harus bersifat heterogen, menghargai perbedaan. Karena perbedaan bukanlah sesuatu yang mengancam, tetapi perbedaan adalah nuansa pelangi yang memperindah bentuk keragaman kehidupan yang luhur. Mahasiswa harus mampu berpikir yang seharusnya, yang logis, bukan biasanya. Selain itu diharapkan ke depan mahasiswa lebih memiliki pemahaman yang utuh terhadap suatu masalah, berpikir obyektif, berpikir kritis, dan tidak diskriminatif serta mampu mendeteksi adanya ekstrimisme,” pungkas Kombes Pol Sihombing.
Sementara itu Wakil Rektor IAIM Kotamobagu, mengapresiasi kegiatan seminar sehari yang diinisiasi oleh Direktorat Intelkam Polda Sulut ini.
“Kami sangat senang sekali dengan adanya seminar ini. Sehingga kita bisa bekerjasama tentang pencegahan hoax, ekstrimisme, radikalisme, dan sebagainya. Tanpa adanya kerjasama yang baik dengan Polda Sulut, hal-hal itu kita kurang tahu persis. Tetapi dengan adanya kerjasama ini, kita bisa mendeteksi dan membentengi diri sejak awal,” kata Subagiah.
Dijelaskannya, untuk penanggulangan hoax, ekstrimisme, dan radikalisme di lingkungan internal IAIM Kotamobagu, dilakukan dengan berbagai cara.
Pihaknya pun berharap, melalui pembekalan dalam seminar ini bisa menjadi sarana untuk bersama-sama mengamankan lingkungan dan masyarakat dari hoax, ekstrimisme, dan radikalisme.“Di IAIM Kotamobagu ada Catur Dharma. Kita mengajarkan hal Islam dan kemuhammadiyahan yang mana Muhammadiyah dalam memahami Islam itu dengan cara rasionalis moderat. Kita di tengah-tengah, tidak ke kanan, tidak ke kiri, dan itulah yang bisa membentengi anak-anak (mahasiswa) kita. Sampai sekarang belum ada mahasiswa yang terpapar paham radikal,” jelas Subagiah.
“Semoga mahasiswa IAIM Kotamobagu mendapatkan hal-hal yang positif dari seminar ini, sehingga apa yang dikhawatirkan itu tidak akan terjadi,” tutup Subagiah.(*/yud)
