Kisah Pendiri Bala Keselamatan, Ketika Iman Menjadi Aksi Nyata

Kamis, 29 Oktober 2026

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

William Booth dan Catherine Booth

Manado, Pilarportal.com – Mereka tidak hanya berbicara tentang kasih Tuhan dari mimbar gereja. William Booth dan Catherine Booth memilih membawa kasih itu ke jalanan, menjumpai orang-orang miskin, mereka yang tersisih, serta masyarakat yang kerap kehilangan harapan.

Dari kepedulian terhadap sesama itulah lahir sebuah gerakan pelayanan Kristen yang kemudian dikenal di seluruh dunia sebagai Bala Keselamatan (The Salvation Army).

Kisah William dan Catherine Booth bukan sekadar sejarah berdirinya sebuah organisasi gereja. Perjalanan mereka menjadi gambaran bagaimana iman dapat diwujudkan melalui tindakan nyata, pengorbanan, dan keberanian melayani orang-orang yang membutuhkan pertolongan.

Berawal dari Keprihatinan terhadap Kehidupan Orang Miskin

William Booth lahir di Nottingham, Inggris, pada 10 April 1829. Sejak muda, ia telah bersentuhan dengan kenyataan hidup masyarakat kecil.

Pengalamannya bekerja sebagai anak magang di sebuah toko gadai membuatnya melihat dari dekat kesulitan yang dialami orang-orang miskin.

Pengalaman tersebut turut membentuk kepeduliannya. William kemudian aktif sebagai penginjil dan memilih menyampaikan Injil Yesus Kristus secara langsung kepada masyarakat, termasuk mereka yang jarang dijangkau pelayanan gereja konvensional.

Baginya, kabar keselamatan tidak seharusnya berhenti sebagai pesan yang didengar. Kabar itu perlu diwujudkan melalui kepedulian terhadap kehidupan manusia.

Ketika melayani masyarakat di kawasan East End, London, William berhadapan dengan persoalan kemiskinan dan keterpinggiran.

Ia melihat kebutuhan akan pelayanan yang tidak hanya berbicara tentang kehidupan rohani, tetapi juga memperhatikan penderitaan manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Catherine Booth, Perempuan di Balik Gerakan Pelayanan

Di samping William berdiri Catherine Mumford Booth, seorang perempuan yang memiliki keyakinan kuat tentang iman, pemberitaan Injil, dan tanggung jawab sosial orang percaya.

Catherine lahir pada 17 Januari 1829 di Ashbourne, Derbyshire, Inggris. Ia dikenal memiliki pemahaman Alkitab yang mendalam dan kemudian berkembang menjadi penginjil, pengkhotbah, penulis, serta pemikir teologi.

Pada masa ketika kesempatan perempuan untuk berkhotbah dan memimpin pelayanan gereja masih terbatas, Catherine berani menyuarakan keyakinannya bahwa perempuan juga memiliki hak untuk memberitakan Injil.

Melalui tulisan dan pelayanannya, ia memperjuangkan keterlibatan perempuan dalam pekerjaan Tuhan. Kontribusinya bukan sekadar mendukung William sebagai seorang istri, melainkan turut membentuk arah dan karakter gerakan yang mereka bangun bersama.

Catherine kemudian dikenal dengan sebutan Army Mother atau Ibu Bala Keselamatan, sebuah penghormatan atas peran dan warisan pelayanannya.

Tahun 1865, Awal Sebuah Gerakan

Pada 1865, William dan Catherine Booth memulai pelayanan yang kemudian berkembang menjadi Bala Keselamatan. William memberitakan Injil kepada masyarakat miskin di London, sedangkan Catherine turut mengembangkan pelayanan dan menggalang dukungan bagi pekerjaan tersebut.

Gerakan awal itu dikenal sebagai The Christian Mission. Pelayanannya menjangkau orang-orang yang sering menghadapi penolakan sosial, termasuk mereka yang bergumul dengan kecanduan alkohol, kehidupan di jalanan, dan berbagai persoalan sosial lainnya.

Alih-alih menjadikan masa lalu seseorang sebagai alasan untuk menjauhinya, gerakan ini berusaha membuka kesempatan bagi mereka untuk mengenal Kristus dan membangun kehidupan yang lebih baik.

Pada 1878, nama The Christian Mission diubah menjadi The Salvation Army, yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Bala Keselamatan.

Penggunaan istilah militer mencerminkan semangat perjuangan, kedisiplinan, dan kesiapan para anggotanya untuk menjalankan misi pelayanan.

Iman yang Tidak Berhenti pada Kata-Kata

Salah satu ciri penting pelayanan William dan Catherine Booth adalah perhatian terhadap kebutuhan rohani sekaligus kebutuhan nyata masyarakat.

Bala Keselamatan kemudian mengembangkan berbagai bentuk pelayanan sosial, termasuk bantuan makanan, tempat penampungan, dukungan bagi orang-orang yang kehilangan tempat tinggal, serta pendampingan bagi mereka yang berada dalam situasi rentan.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap sesama tidak harus dipisahkan dari kehidupan iman. Menolong orang yang lapar, mendampingi mereka yang terluka, dan memberikan kesempatan kepada orang yang tersisih merupakan bentuk pelayanan yang dapat menghadirkan kasih Kristus secara nyata.

Warisan pemikiran tersebut sering dirangkum melalui ungkapan soup, soap and salvation—makanan, kebersihan, dan keselamatan—yang menggambarkan perhatian terhadap kebutuhan manusia secara menyeluruh.

Warisan yang Melampaui Zaman

Catherine Booth meninggal pada 4 Oktober 1890. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi William dan gerakan yang mereka bangun bersama. William tetap melanjutkan pekerjaan pelayanan hingga meninggal dunia pada 20 Agustus 1912.

Dalam perjalanan hidupnya, William menyaksikan gerakan yang dirintisnya berkembang melampaui Inggris. Bala Keselamatan kemudian menjadi gerakan Kristen internasional yang menjalankan pelayanan rohani dan sosial di berbagai negara.

Namun, warisan terbesar William dan Catherine Booth tidak semata-mata terletak pada pertumbuhan organisasi. Warisan itu juga hidup dalam semangat untuk mendatangi mereka yang membutuhkan, menghargai martabat manusia, dan menghadirkan pertolongan tanpa menjadikan latar belakang seseorang sebagai penghalang.

Pesan bagi Generasi Penerus Bala Keselamatan

Bagi anggota Bala Keselamatan, khususnya generasi muda, kisah kedua pendiri ini menjadi pengingat bahwa pelayanan bukan sekadar jabatan, seragam, kegiatan, atau rutinitas organisasi.

Pelayanan adalah kesediaan untuk hadir ketika orang lain membutuhkan pertolongan. Pelayanan adalah keberanian untuk berdiri bersama mereka yang tersisih. Pelayanan juga menuntut kerendahan hati untuk mendengarkan, kesetiaan dalam menjalankan panggilan, dan kemauan mengubah iman menjadi tindakan.

William dan Catherine Booth menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari kepedulian terhadap orang-orang yang berada di sekitar kita.

Tidak semua orang harus melakukan pekerjaan besar, tetapi setiap orang dapat mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan melalui tindakan kasih yang nyata.

Pada akhirnya, sejarah Bala Keselamatan mengingatkan bahwa Injil bukan hanya berita yang disampaikan melalui perkataan, melainkan juga kasih yang dapat dirasakan melalui perbuatan.

Sebab, ketika iman menggerakkan seseorang untuk melayani sesama, harapan dapat tumbuh bahkan di tengah kehidupan yang paling sulit.

Penulis : Yudi Mintalangi (UKW 24799)

Editor : YUDI HM

Sumber Berita: Diolah dari beberapa sumber

Berita Terkait

Rutan Kotamobagu Bimbing Warga Binaan Belajar Al-Qur’an
Opa Decky Tulumang: “Saya Merasakan Jamahan Tuhan”
International Youth Congress 2027 Gereja Bala Keselamatan, Panitia Audiensi dengan Menteri Agama
Lapas Tamako Perkuat Pembinaan Kerohanian WBP Kristen
Minggu Kasih Polres Kotamobagu, Kapolres Ajak Warga Jaga Kerukunan
Raker KBK Keuskupan Manado Bakal Digelar di Paroki Trinitas Tomohon
Maulid Nabi, Wakapolda Sulut Dorong Peningkatan Kinerja
GPS Distrik Minsel Gelar MPDK, 120 Orang Dikuatkan Lewat Pesan Kekudusan

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 06:53

Kisah Pendiri Bala Keselamatan, Ketika Iman Menjadi Aksi Nyata

Rabu, 28 Oktober 2026 - 11:43

Rutan Kotamobagu Bimbing Warga Binaan Belajar Al-Qur’an

Minggu, 25 Oktober 2026 - 08:45

Opa Decky Tulumang: “Saya Merasakan Jamahan Tuhan”

Kamis, 15 Oktober 2026 - 21:26

International Youth Congress 2027 Gereja Bala Keselamatan, Panitia Audiensi dengan Menteri Agama

Kamis, 8 Oktober 2026 - 19:18

Lapas Tamako Perkuat Pembinaan Kerohanian WBP Kristen

Berita Terbaru

Kesehatan

Bahaya Vape bagi Paru-paru, Kenali Risiko dan Gejalanya

Kamis, 29 Okt 2026 - 07:55

Click to listen highlighted text!
Exit mobile version