Diskusi Energi di Manado: Optimisme Swasembada Era Prabowo

Manado, Pilarportal.com – Diskusi bertajuk “Swasembada Energi di Era Prabowo, Sekadar Wacana atau Sudah Terencana?” digelar di Allur Coffee Manado, Rabu (4/3/2026).

Kegiatan ini dimoderatori Steve Kolibu dan diikuti puluhan jurnalis media cetak, online, serta elektronik di Sulawesi Utara.

Energi: Pasokan, Akses, Harga dan Lingkungan

Pakar Energi, Reynaldо J. Saliki, S.Pd., M.Sc., Ph.D menegaskan bahwa pembahasan energi tidak bisa dilepaskan dari empat aspek utama, yakni ketersediaan pasokan, akses masyarakat, keterjangkauan harga, serta keberlanjutan lingkungan.

Menurutnya, bauran energi Indonesia saat ini masih didominasi energi fosil, sementara porsi energi terbarukan masih sangat kecil.

Kondisi ini menjadi tantangan besar jika Indonesia ingin benar-benar mencapai swasembada energi dan mengurangi ketergantungan impor.

Ia juga menyinggung dampak gejolak perang di Timur Tengah yang memengaruhi rantai pasok global, termasuk suplai bahan bakar minyak (BBM) ke Indonesia.

Ekonomi dan Ketergantungan Impor Energi

Pengamat Ekonomi, Dr. Robert R. Winerungan, M.Si menilai kesejahteraan masyarakat sangat bergantung pada ketersediaan energi yang cukup.

“Pendapatan yang meningkat pasti disertai kebutuhan yang meningkat, termasuk kebutuhan energi,” ujarnya.

Ia memaparkan bahwa meskipun Indonesia tercatat melakukan ekspor di sektor energi, pada kenyataannya Indonesia masih mengimpor, khususnya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Hal ini menjadi paradoks yang harus dibenahi melalui kebijakan strategis pemerintah.

Salah satu langkah yang disorot adalah program pemerintahan Presiden Prabowo dalam memperluas pembangunan kilang untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri.

Setelah sekian puluh tahun minim pembangunan kilang, di era Presiden Prabowo mulai dilakukan pembangunan fasilitas produksi baru sebagai upaya mengurangi ketergantungan impor BBM.

Masuk dalam Asta Cita dan Roadmap Energi Nasional

Pakar Kebijakan Publik, Dr. Anggela A. Adam, S.E., M.M menyampaikan bahwa isu energi masuk dalam kerangka Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo.

Ia menilai program swasembada energi bukan sekadar wacana, melainkan sudah masuk dalam perencanaan strategis nasional.

Indonesia, kata dia, pernah sukses mencapai swasembada pangan, dan swasembada energi diyakini dapat menyusul dengan komitmen dan konsistensi kebijakan.

Menurutnya, peresmian kilang besar untuk produksi serta pelantikan Dewan Energi Nasional yang fokus menyusun roadmap energi menjadi langkah konkret menuju kemandirian energi.

“Dengan upaya-upaya pemerintah ini, saya optimistis dalam beberapa tahun ke depan Indonesia bisa mencapai swasembada energi,” tegasnya.

Optimisme dan Tantangan

Diskusi tersebut menyimpulkan bahwa swasembada energi di era Presiden Prabowo bukan sekadar wacana, melainkan sudah masuk dalam perencanaan melalui pembangunan kilang, penguatan kelembagaan energi, serta penyusunan roadmap nasional.

Namun demikian, tantangan tetap besar, mulai dari dominasi energi fosil, ketergantungan impor, hingga dinamika geopolitik global yang memengaruhi pasokan dan harga energi.

Puluhan jurnalis yang hadir turut mengapresiasi diskusi ini sebagai ruang intelektual untuk mengawal kebijakan energi nasional agar benar-benar berpihak pada kemandirian dan kesejahteraan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *