MINUT, Pilarportal.com – Suasana haru dan penuh sukacita menyelimuti Ibadah Ucapan Syukur Hari Ulang Tahun (HUT) ke-91 Gereja Bala Keselamatan Korps Werot, Minggu (12/4/2026).
Di usia yang tidak lagi muda, gereja ini berdiri sebagai saksi hidup dari kesetiaan Tuhan sejak pertama kali didirikan pada 4 April 1935.

Di tengah suasana pujian dan doa yang dinaikkan dengan tulus, jemaat diajak untuk merenungkan perjalanan iman—bukan sekadar menghitung usia, tetapi mengingat jejak kasih Tuhan yang tak pernah berhenti bekerja.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Komandan Divisi Sulawesi Utara, Mayor Jemris Blake, dalam perenungannya yang diambil dari Kisah Para Rasul 2:41-47, mengajak jemaat melihat makna sejati dari ulang tahun gereja.

“Ulang tahun gereja bukan tentang bertambahnya angka, tetapi tentang bagaimana kita tetap setia dalam panggilan Tuhan. Ini adalah momen untuk melihat kembali—apakah kita masih berjalan dalam kehendak-Nya—dan menatap ke depan dengan iman,” tuturnya lembut namun penuh makna.
Ia mengingatkan bahwa gereja mula-mula adalah gambaran yang hidup tentang bagaimana umat percaya seharusnya berjalan: bertekun dalam firman, hidup dalam persekutuan, dan saling mengasihi dengan tulus.

Di situlah gereja menemukan jati dirinya—bukan dalam gedung, tetapi dalam kehidupan yang dipimpin oleh firman Tuhan.
“Gereja dibangun bukan oleh manusia, tetapi oleh Tuhan sendiri. Karena itu, kita harus kembali kepada dasar iman: Sola Scriptura, Sola Gratia, dan Sola Fide. Dari situlah lahir kehidupan yang bersatu, penuh sukacita, dan tulus hati,” lanjutnya.

Dalam suasana yang penuh kehangatan, pesan firman Tuhan itu tidak hanya didengar, tetapi juga diwujudkan. Sebuah momen sederhana namun menyentuh terjadi ketika gereja menyerahkan bantuan kursi roda kepada seorang ibu yang membutuhkan.
Air mata haru tak terbendung—menjadi bukti bahwa kasih Kristus nyata, hadir, dan bekerja melalui tangan-tangan jemaat.
Di usia 91 tahun, Gereja Bala Keselamatan Korps Werot tidak hanya dipanggil untuk bertahan, tetapi untuk terus menjadi terang. Gereja diajak untuk tidak hanya melihat ke dalam, tetapi juga peka terhadap pergumulan di sekitarnya—menjadi jawaban bagi dunia yang membutuhkan kasih.
Sejarah panjang pelayanan juga mencatat bagaimana jemaat gereja ini turut memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Sejak tahun 1970 hingga kini, banyak jemaat yang dipercaya menjadi kepala desa di Werot—sebuah bukti bahwa iman yang hidup mampu menghadirkan perubahan.
Ibadah syukur ini turut dihadiri Camat Likupang Barat, perwakilan BKSUA dari lima denominasi gereja, serta Pemerintah Desa Werot.
Namun lebih dari sekadar kehadiran para tamu, yang paling terasa adalah kehadiran Tuhan yang mengikat setiap hati dalam satu kasih.
Di penghujung ibadah, jemaat pulang dengan satu keyakinan: bahwa perjalanan belum selesai. Di usia ke-91, gereja ini tetap melangkah—setia, rendah hati, dan terus berharap—menjadi alat di tangan Tuhan untuk menghadirkan kasih-Nya bagi dunia.























Komentar