Jakarta, Pilarportal.com – Hepatitis akibat infeksi virus sering disebut sebagai silent killer karena dapat berkembang tanpa gejala jelas. Banyak penderita baru mengetahui kondisinya ketika kerusakan hati sudah berlangsung cukup lama.
Menurut National Library of Medicine AS, hepatitis merupakan kondisi peradangan pada hati yang dapat disebabkan oleh virus, alkohol, zat berbahaya, racun, maupun penyakit tertentu.
Dari berbagai jenis hepatitis, tiga yang paling sering ditemukan adalah hepatitis A, hepatitis B, dan hepatitis C.
Hepatitis A umumnya menular melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Meski mudah menular, penyakit ini biasanya dapat sembuh dan jarang menyebabkan komplikasi serius.
Sementara hepatitis B dapat menyebar melalui hubungan seksual, penggunaan jarum suntik bersama, serta kontak dengan darah penderita.
Berbeda dengan hepatitis A, hepatitis B memiliki risiko menyebabkan gangguan hati jangka panjang meski sebagian penderita dapat pulih dalam waktu sekitar enam bulan.
Adapun hepatitis C menjadi salah satu jenis yang paling berbahaya karena sering tidak menimbulkan gejala dan dapat berkembang menjadi penyakit hati kronis.
Hingga saat ini, vaksin hepatitis C belum tersedia. Infeksi yang berlangsung lama dapat menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada hati atau sirosis.
Berdasarkan lamanya penyakit, hepatitis dibedakan menjadi akut dan kronis. Hepatitis akut berlangsung kurang dari enam bulan, sedangkan kondisi yang menetap lebih dari enam bulan dikategorikan sebagai hepatitis kronis.
Masalah terbesar terjadi pada hepatitis kronis karena banyak penderita tidak menyadari dirinya terinfeksi. Kerusakan hati dapat terus berkembang secara perlahan selama bertahun-tahun.
Ketika kondisi semakin parah, penderita dapat mengalami penurunan massa otot, nafsu makan berkurang, pembengkakan perut, hingga pembengkakan pada pergelangan kaki akibat gangguan pengaturan cairan tubuh.
Kerusakan hati tingkat lanjut juga dapat memicu komplikasi seperti perdarahan pada saluran pencernaan, penumpukan cairan di perut, hingga gangguan fungsi otak yang memengaruhi kemampuan berpikir.
Untuk memastikan diagnosis, dokter biasanya melakukan pemeriksaan fisik dan tes darah guna mendeteksi infeksi serta antibodi terhadap virus hepatitis.
Pada hepatitis B dan C, pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk mengetahui perkembangan penyakit dan menentukan penanganan yang tepat.
Pemeriksaan biopsi hati juga dapat dilakukan dengan mengambil sampel jaringan hati untuk melihat tingkat kerusakan yang terjadi.
Karena gejalanya sering tidak terlihat sejak awal, masyarakat diimbau lebih peduli terhadap kesehatan hati melalui pemeriksaan rutin.
Deteksi dini dan penanganan yang tepat dapat membantu mencegah kerusakan hati berat serta meningkatkan peluang kesembuhan.
Penulis : Yudi Mintalangi (UKW 24799)
Editor : YUDI HM

Komentar Batalkan balasan