PLN EPI Genjot Rantai Pasok Gas, Kunci Ketahanan Energi Nasional

Pilarportal.com, Singapura — Rantai pasok gas bumi diproyeksikan menjadi salah satu kekuatan utama dalam menjaga ketahanan energi nasional.

Hal ini disampaikan Direktur Utama PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) sekaligus Vice Chairman Indonesian Gas Society (IGS), Rakhmad Dewanto, dalam forum Rystad Energy APAC Annual Summit 2025 yang digelar di Singapura, Selasa (30/9/2025).

Dalam sesi panel bertajuk “LNG and the Tale of Two Asias: Energy Security and Energy Affordability”, Rakhmad menjelaskan bahwa kebutuhan energi nasional lima tahun ke depan akan terus meningkat.

Pertumbuhannya diperkirakan mencapai 2,3 persen per tahun, dengan sektor kelistrikan sebagai pendorong utama melalui pertumbuhan sekitar 5,4 persen per tahun.

Menurut Rakhmad, Indonesia perlu menyeimbangkan dua hal penting: ketahanan energi (energy security) dan keberlanjutan energi (energy sustainability).

Ia menilai diversifikasi sumber energi — dari batubara, gas alam cair (LNG), hingga energi terbarukan — menjadi kunci menghadapi transisi energi.

“Dengan bertambahnya pembangkit energi terbarukan, peran pembangkit gas juga meningkat. Gas bukan hanya energi transisi, tapi energi pelengkap terutama bagi PLTS dan PLTB,” jelasnya.

Kebutuhan LNG PLN EPI Meningkat

Rakhmad menyebut, LNG memiliki peran penting dalam mendorong perekonomian nasional, khususnya di sektor kelistrikan.

BACA JUGA  Naik Kelas! PLN EPI Jadi Industry Leader di Ajang IPEA 2025

Kebutuhan LNG PLN EPI meningkat signifikan dari 61 kargo pada 2022 menjadi 90 kargo pada 2025, dan diproyeksikan naik lagi menjadi 104 kargo pada 2026.

Harga gas dan LNG untuk kelistrikan saat ini juga dinilai kompetitif dibandingkan harga internasional.

Kondisi tersebut menegaskan posisi Indonesia bukan hanya sebagai eksportir gas, melainkan juga pengguna utama di kawasan Asia.

Perkuat Infrastruktur Gas Nasional

Untuk memperkuat ketahanan energi, PLN EPI tengah mengembangkan infrastruktur LNG midstream.

Proyek ini ditargetkan menambah kapasitas penyimpanan dari 700 ribu meter kubik menjadi 1,2 juta meter kubik, serta meningkatkan kapasitas regasifikasi dari 1.300 MMSCFD menjadi 3.850 MMSCFD.

“Dengan infrastruktur LNG yang kini dibangun di kawasan timur Indonesia, pasar baru gas diharapkan terbuka. Cadangan gas nasional masih melimpah, dan ini bisa memperkuat ketahanan energi sekaligus menurunkan emisi,” ujar Rakhmad.

Kolaborasi Regional dan Arah Baru Energi Asia

Selain memperkuat rantai pasok domestik, Rakhmad juga menyoroti pentingnya kerja sama antarnegara di Asia Tenggara dalam pengembangan infrastruktur gas dan LNG.

BACA JUGA  Komisaris Utama PLN EPI Pastikan Pasokan Batubara Aman di PLTU Timor-1 Kupang

Menurutnya, sinergi lintas batas ini akan memperkuat ketahanan energi regional dan membuka peluang investasi baru.

Dalam sesi tersebut, Rakhmad tampil bersama sejumlah tokoh energi global, di antaranya Kaushal Ramesh (Rystad Energy), Tracy Lothian (MidOcean Energy), Mehdi Chennoufi (Vitol), dan Dr. Tran Hong Nam (PetroVietnam).

Forum Rystad Energy APAC Annual Summit 2025 sendiri mempertemukan para pemimpin energi Asia Pasifik untuk membahas strategi menghadapi ketidakpastian pasar, memperkuat transisi energi, serta membuka peluang nilai di sepanjang rantai pasok energi global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *