MANADO, Pilarportal.com – Ruangan Aula Grhadika Jaya Sakti itu tak sekadar menjadi tempat berlangsungnya seremonial.
Siang tadi, Jumat 10 April 2026, tempat itu berubah menjadi ruang penuh kenangan, tempat seorang prajurit menutup satu bab penting dalam perjalanan pengabdiannya.
Brigjen TNI Yustinus Nono Yulianto berdiri di podium. Tegap seperti biasa. Namun di balik sikap militernya, tersimpan getar emosi yang tak sepenuhnya bisa disembunyikan.
Hari itu, ia tidak hanya menyerahkan jabatan Kepala Staf Kodam (Kasdam) XIII/Merdeka kepada Brigjen TNI Wahyu Eko Purnomo, tetapi juga melepas sebagian cerita hidupnya yang telah ia rajut selama lebih dari dua tahun di tanah Nyiur Melambai.
“Kami berdiri di sini untuk pamit…” kalimat pembuka itu meluncur perlahan, sederhana, namun terasa berat.
Selama 2 tahun 4 bulan 4 hari, ia bukan hanya menjalankan tugas. Ia hidup di dalamnya. Ia tumbuh bersama dinamika satuan, melewati pergantian empat Pangdam, menghadapi berbagai tantangan, sekaligus merasakan hangatnya kebersamaan yang tidak tergantikan.
Di titik itulah, suara seorang jenderal berubah menjadi suara seorang manusia—yang sedang berpamitan.
“Banyak hal yang mungkin belum maksimal… untuk itu saya mohon maaf,” ucapnya, jujur, tanpa jarak.
Namun yang paling membekas bukan sekadar evaluasi diri, melainkan pengakuan yang lahir dari hati.
Manado, baginya, bukan lagi sekadar lokasi penugasan.
“Terus terang… Manado ini saya anggap seperti rumah sendiri. Bahkan sudah menjadi rumah kedua saya.”
Kalimat itu seolah menggantung di udara. Hening. Dalam. Mengena.
Bagi seorang prajurit, rumah bukan hanya soal tempat tinggal. Ia adalah tentang rasa diterima, dihargai, dan memiliki. Dan di Kodam XIII/Merdeka, semua itu ia temukan.
Ia berbicara tentang prajurit yang bukan hanya solid, tetapi juga hangat. Tentang suasana yang bukan hanya disiplin, tetapi juga penuh kekeluargaan.
“Kebersamaan di sini sangat terasa. Itu yang tidak akan saya lupakan,” katanya, lirih namun pasti.
Di balik upacara resmi, di balik barisan rapi dan atribut kebesaran, ada sesuatu yang tak tertulis—ikatan emosional yang tumbuh diam-diam, namun kuat.
Perpisahan itu pun menjadi lebih dari sekadar rotasi jabatan. Ia adalah perpisahan dengan kenangan, dengan kebersamaan, dengan tempat yang telah menjadi “rumah”.
Dan seperti setiap perpisahan yang tulus, ia meninggalkan jejak.
Bukan hanya pada jabatan yang pernah diemban, tetapi pada hati orang-orang yang pernah berjalan bersamanya.












