Sigi, Pilarportal.com – Malam itu, langit Loru seakan menjadi saksi gelombang iman yang tak terbendung. Ribuan anak muda dari berbagai denominasi memadati Mako Brimob Loru, Kabupaten Sigi, dalam Ibadah Paskah Pemuda rangkaian Paskah Nasional V, Sabtu (25/4/2026).
Lautan manusia, sorak pujian, dan tangan-tangan yang terangkat menciptakan suasana yang bukan sekadar ramai—tetapi mengguncang jiwa.
Di tengah gemuruh itu, satu pesan menggema kuat: kita lebih dari pemenang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengangkat firman dari Surat Roma 8:31–39, Sekretaris Umum Gereja Bala Keselamatan Teritori Indonesia, Letnan Kolonel DR Albert Darwono Sarimin, tampil dengan suara yang tegas namun menyentuh.
Ia tidak sekadar berkhotbah—ia seperti sedang berbicara langsung ke pergumulan setiap anak muda yang hadir.
“Identitas kita bukan dibentuk oleh dunia,” ucapnya, disambut keheningan yang khusyuk. “Bukan oleh popularitas, bukan oleh media sosial. Tapi oleh firman Tuhan yang hidup—dan itu tidak bisa digantikan oleh apa pun.”
Di antara kerumunan, tampak wajah-wajah muda yang larut dalam refleksi. Ada yang menunduk, ada yang mengusap air mata, ada pula yang menatap ke langit dengan harapan baru.
Pesan itu terasa personal—seolah menjawab kegelisahan generasi yang selama ini mencari jati diri di tengah tekanan zaman digital.
Albert melanjutkan, identitas dalam Tuhan bukan hanya soal keyakinan, tetapi kekuatan untuk bertahan. Identitas itulah yang membuat anak muda tidak rapuh, melainkan berdiri teguh menghadapi badai kehidupan.
Ia mengingatkan kembali kuasa Yesus Kristus yang tidak lekang oleh waktu. “Yesus yang menghentikan badai, kuasa-Nya masih nyata hari ini. Ketika Ia berkata ‘Akulah kebangkitan dan hidup’, itu bukan teori—itu fakta yang mengubah hidup.”
Kalimat itu langsung disambut gemuruh “Amin!” dari ribuan peserta. Suasana berubah menjadi penuh energi, seperti ada kekuatan baru yang mengalir di antara mereka.
Tak berhenti di sana, ia juga menyampaikan pesan penuh harapan: Tuhan sedang menyiapkan tuaian besar, dan setiap anak muda—apa pun latar belakangnya—punya tempat dalam rencana itu.
“Tidak ada yang bisa menggugat anugerah Tuhan atas hidup kita. Kita dipanggil untuk menjadi pemenang,” tegasnya.

Puncaknya, seluruh peserta berdiri. Dalam satu suara, mereka membacakan deklarasi iman. Kalimat demi kalimat terucap lantang, menggema di antara perbukitan Sigi—sebuah komitmen bersama untuk hidup sebagai generasi yang tidak hanya percaya, tetapi juga berdampak.
Malam itu bukan sekadar ibadah. Ia menjadi titik balik. Sebuah momen di mana ribuan anak muda pulang dengan satu keyakinan yang sama: mereka tidak lagi berjalan sendiri, dan mereka—lebih dari pemenang.
Penulis : Yudi Mintalangi (UKW 24799)
Editor : Yudi Mintalangi















