GPS Distrik Minahasa Kunjungi Korps IV Manado, Refleksi Tema “Cahaya dan Cinta”

MANADO, Pilarportal.comGerakan Pembawa Suluh (GPS) Distrik Minahasa melaksanakan kunjungan pelayanan ke GPS Korps IV Manado, Sabtu (21/2/2026).

Kegiatan ini dirangkaikan dengan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Gerakan Pembawa Suluh ke-88 serta momentum Hari Valentine, mengangkat tema besar “Cahaya dan Cinta”.

Ibadah berlangsung penuh sukacita dan reflektif dengan menghadirkan Sersan Mayor Orang Muda (SMOM) Korps Tondano, Noldy Sumenge, sebagai pembawa firman.

Dalam khotbahnya, Noldy mengajak Gerakan Pembawa Suluh untuk memahami makna terang dan kasih sebagai fondasi kehidupan kekristenan di tengah tantangan zaman.

Refleksi Melalui Metode Sederhana

Dalam pengantar firman, Noldy membagikan selembar kertas kepada jemaat yang terbagi dalam dua kolom bertuliskan “Cahaya” dan “Cinta”.

Melalui metode sederhana tersebut, peserta diajak menuliskan pemahaman pribadi mereka tentang dua kata yang menjadi inti iman Kristen.

Menurutnya, terang dan kasih bukan sekadar konsep teologis, tetapi harus menjadi gaya hidup orang percaya.

Perbedaan Generasi, Satu Kasih Tuhan

Noldy juga menyinggung perbedaan mencolok antara generasi masa lalu dan generasi masa kini. Perkembangan zaman, kata dia, memang melahirkan karakter dan tantangan berbeda, namun tidak ada satu pun yang dapat memisahkan manusia dari kasih Tuhan Yesus Kristus.

BACA JUGA  Momen Haru Perayaan Hari Bapak di Gereja Bala Keselamatan Korps IV Manado

“Perbedaan zaman bukan alasan untuk kehilangan terang dan kasih. Kita semua tetap berada dalam kasih Tuhan,” ungkapnya.

Ia membacakan firman dari Injil Matius 5:16 tentang panggilan untuk membiarkan terang bercahaya di depan sesama agar memuliakan Bapa di sorga.

Selain itu, ia mengutip 1 Yohanes 4:8 yang menegaskan bahwa Allah adalah kasih, serta Injil Yohanes 8:12 saat Yesus menyatakan diri-Nya sebagai terang dunia.

Empat Konsep Cinta

Dalam pemaparannya, Noldy menjelaskan empat konsep cinta dalam pemikiran Yunani kuno:

  • Eros – cinta romantis atau penuh gairah

  • Philia – cinta persahabatan

  • Storge – cinta dalam keluarga

  • Agape – cinta tanpa syarat dan tulus

Ia menekankan bahwa cinta sejati adalah agape, yakni kasih yang rela berkorban dan peduli terhadap sesama tanpa pamrih.

Menghidupi Kasih dalam Tindakan Nyata

Kasih, lanjutnya, tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan konkret, seperti:

  • Rela berkorban bagi sesama yang membutuhkan

  • Peduli terhadap lingkungan sosial

  • Menjadi pembawa damai di tengah perbedaan

  • Memberikan teladan hidup yang baik

BACA JUGA  Mayor Emson Santu Sampaikan Khotbah Perdana dalam Ibadah Kesucian Gereja BK Korps IV  Manado

“Kita dipanggil bukan hanya menjadi pendengar firman, tetapi pelaku kasih,” tegasnya.

Merangkul Semua Generasi dalam Terang Tuhan

Ibadah tersebut juga menyoroti karakter berbagai generasi, mulai dari Silent Generation hingga Generasi Alpha. Perbedaan karakter dinilai sebagai kekayaan yang perlu dirangkul dalam terang dan kasih Tuhan.

Berikut klasifikasi generasi berdasarkan tahun kelahiran:

  • Silent Generation (1928–1945) – Disiplin dan loyal

  • Baby Boomers (1946–1964) – Pekerja keras dan kompetitif

  • Generasi X (1965–1980) – Mandiri dan adaptif

  • Generasi Y/Millennials (1981–1996) – Kreatif dan melek teknologi

  • Generasi Z (1997–2012) – Digital native

  • Generasi Alpha (2013–sekarang) – Tumbuh di era AI dan otomatisasi

Noldy menegaskan bahwa meskipun karakter tiap generasi berbeda, semuanya tetap dipanggil menjadi terang dunia dan menghadirkan kasih di tengah masyarakat.

Harapan Kolaborasi Pelayanan

Opsir Korps IV Manado Mayor Emson Santu menyampaikan harapan agar kebersamaan dengan GPS Distrik Minahasa terus terjalin dan berkembang dalam kolaborasi pelayanan ke depan.

“Kami rindu kebersamaan ini terus berlanjut, dan hanya Tuhan yang dimuliakan,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *