Sejarah Panggilan Pelayanan Leonard Woodward di Kantewu, Awal Misi Bala Keselamatan di Pedalaman Pipikoro

Pilarportal.com, Manado, 20 Oktober 2025 — Kisah panggilan pelayanan Leonard H. Woodward menjadi bab penting dalam sejarah penyebaran Injil di Sulawesi Tengah.

Dari lembah sunyi Kantewu, wilayah Pipikoro, lahir pelayanan Bala Keselamatan (The Salvation Army) yang kemudian berakar kuat di tengah masyarakat pedalaman.

 1. Awal Panggilan Leonard H. Woodward

Leonard Havergal Woodward adalah seorang Opsir Bala Keselamatan asal Inggris. Sebelum diutus ke Indonesia, ia melayani di sejumlah daerah misi di Asia Tenggara.

Pada awal tahun 1910-an, Woodward merasakan dorongan kuat untuk melayani di tempat yang belum dijangkau Injil. Dalam catatan pribadinya yang diarsipkan di Salvation Army International Heritage Centre, London, ia menulis:

“Tuhan memanggilku ke pulau-pulau di Timur — tempat nama-Nya belum dikenal.”
(Woodward Diary, 1916)

Pimpinan Bala Keselamatan di Hindia Belanda kemudian menugaskannya ke daerah Sulawesi Tengah, wilayah yang kala itu masih sangat terpencil dan belum tersentuh pekabaran Injil.

 2. Pengutusan ke Pegunungan Kulawi – Pipikoro

Tahun 1917, Woodward bersama istrinya, Maggie Woodward, tiba di wilayah Kulawi dan menembus pegunungan menuju Kantewu, sebuah kampung kecil di lembah Pipikoro. Daerah ini dihuni oleh suku Uma, dengan tradisi animisme dan pemujaan roh nenek moyang.

Perjalanan menuju Kantewu penuh tantangan:

  • Medan berat dan jalan setapak melewati sungai serta hutan lebat,

  • Perbedaan bahasa dan budaya,

  • Penolakan dari sebagian penduduk pada awalnya.

Namun Woodward yakin bahwa Kantewu adalah panggilan hidupnya. Ia menulis dalam suratnya:

“Aku tahu Tuhan menghendaki aku tinggal di sini — di antara orang-orang yang sederhana dan tulus hati.”
(Surat Woodward ke Markas Bala Keselamatan, 1918)

 3. Membangun Kepercayaan di Kantewu

Woodward tidak langsung berkhotbah atau mendirikan gereja. Ia memulai pelayanannya dengan tindakan kasih: menolong orang sakit, mengajar anak-anak membaca, dan membantu warga membuka ladang.

Pendekatan penuh kasih ini menyentuh hati masyarakat. Salah satu kisah terkenal adalah dialognya dengan kepala suku Tama Gempo. Ketika Woodward menceritakan tentang Yesus, kepala suku berkata:

“Jika Yesus itu seperti tuan, saya bisa mencintainya.”
(Fields of the Lord, Lorraine V. Aragon, 2000, hlm. 105)

Peristiwa itu menjadi titik awal penerimaan Injil di Kantewu — bukan karena khotbah yang panjang, melainkan karena teladan hidup seorang pelayan Tuhan.

 4. Buah Pelayanan dan Warisan

Pelayanan Woodward di Kantewu menghasilkan buah yang nyata:

  • Pos pelayanan dan sekolah Bala Keselamatan berdiri,

  • Banyak keluarga mulai percaya kepada Kristus,

  • Dari Kantewu, Injil menjalar ke seluruh lembah Pipikoro, Kulawi, hingga Lindu.

Beberapa dekade kemudian, dibangun Rumah Sakit Woodward Palu sebagai penghormatan atas jasanya. Gereja-gereja Bala Keselamatan di Sulawesi Tengah hingga kini menganggap Kantewu sebagai “tempat kelahiran iman” mereka.

 5. Makna Panggilan Woodward

Pelayanan Leonard H. Woodward meninggalkan tiga teladan utama bagi setiap pelayan Tuhan:

  1. Ketaatan – ia meninggalkan kenyamanan demi menaati panggilan Allah.

  2. Kasih yang nyata – ia memenangkan hati orang dengan pelayanan, bukan sekadar kata.

  3. Ketekunan dalam kesulitan – di tengah penyakit dan keterasingan, ia tetap setia sampai akhir.

Sebagaimana tertulis dalam Roma 10:14-15:

“Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia?
Dan bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan?…
Alangkah indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!”

 Profil Leonard Havergal Woodward (1884–1956)

  • Nama lengkap: Leonard Havergal Woodward

  • Lahir: Akhir abad ke-19 di Inggris

  • Organisasi: The Salvation Army (Bala Keselamatan), London

  • Jabatan: Lieutenant Colonel (perwira misi internasional)

  • Pelayanan utama: Misionaris di Hindia Belanda — khususnya Sulawesi Tengah (Kantewu, Pipikoro)

Layanan dan Kontribusi di Kantewu

  • Pendidikan: Mendirikan sekolah dasar dan mengajar baca-tulis dalam bahasa Uma dan Melayu.

  • Kesehatan: Membuka klinik sederhana untuk menangani malaria dan penyakit tropis.

  • Bahasa: Mempelajari bahasa Uma dan menerjemahkan bagian-bagian Injil secara lisan.

  • Budaya: Menghormati adat setempat dan menanamkan nilai kasih serta perdamaian Injil.

Warisan dan Dampak

Dalam laporan tahun 1919, Woodward mencatat sudah ada 126 pengikut Bala Keselamatan di Pipikoro. Pos misi Kantewu kemudian menjadi pusat penginjilan bagi wilayah sekitar seperti Pakuli, Gimpu, dan Lindu.

Hingga kini, pelayanannya menjadi inspirasi gerakan misi Bala Keselamatan di Indonesia — sebuah warisan iman yang lahir dari ketulusan, kasih, dan ketaatan seorang utusan Tuhan.

 Sumber dan Catatan Sejarah

  1. Archives Hub – The Salvation Army International Heritage Centre (Ref. GB2133-LHW)

  2. Lorraine V. Aragon, Fields of the Lord: Animism, Christian Minorities, and State Development in Indonesia (University of Hawaii Press, 2000)

  3. Laporan internal Bala Keselamatan (1918–1925)

  4. Catatan oral gereja lokal di Pipikoro dan Kantewu

Woodward wafat pada tahun 1956, namun warisan pelayanannya tetap hidup — tidak hanya di lembar sejarah gereja, tetapi di hati umat yang merasakan kasih Kristus melalui hidupnya.

Penulis: Yusuf Tomu, S.Th
Editor: Tim Redaksi Pilarportal.com